Tempat Bersejarah di Kebumen

1. Goa Jatijajar

th

Goa Jatijajar adalah Goa Alam yang terletak di desa Jatijajar, Kecamatan Ayah, Kabupaten Dati II Kebumen. Goa ini terbentuk dari batu kapur dan telah diketemukan oleh seorang petani yang memiliki tanah diatas Goa tersebut yang Bernama “Jayamenawi”. Pada suatu ketika Jayamenawi sedang mengambil rumput, kemudian jatuh kesebuah lobang, ternyata lobang itu adalah sebuah lobang ventilasi yang ada di langit-langit Goa tersebut. Lobang ini mempunyai garis tengah 4 meter dan tinggi dari tanah yang berada dibawahnya 24 meter.

Pada mulanya pintu-pintu Goa masih tertutup oleh tanah. Maka setelah tanah yang menutupi dibongkar dan dibuang, ketemulah pintu Goa yang sekarang untuk masuk. Karena dimuka pintu Goa ada 2 pohon jati yang besar tumbuh sejajar, maka goa tersebut diberi nama Goa Jatijajar (Versi ke I).

Di dalam Goa Jatijajar terdapat 7 (tujuh) sungai atau sendang, tetapi yang data dicapai dengan mudah hanya 4 (empat) sungai yaitu :

1.Sungai Puser Bumi

2.Sungai Jombor

3.Sungai Mawar

4.Sungai Kantil

Tiap-tiap sungai/sendang mempunyai mitos, yaitu :

Untuk sungai Puser Bumi dan Jombor konon airnya mempunyai khasiat dapat digunakan untuk segala macam tujuan menurut kepercayaan masing-masing. Sedangkan Sungai Mawar konon airnya jika untuk mandi atau mencuci muka, mempunyai khasiat bisa awet muda. Adapun Sendang kantil jika airnya untuk cuci muka atau mandi, maka niat/cita-citanya akan mudah tercapai.

Pada saat ini yang telah dibangun baru Sendang Mawar dan Sendang Kantil, Sedangkan Sendang Jombor dan Sendang Puser Bumi masih alami dan masih belum ada penerangan serta licin.

Di dalam Goa Jatijajar banyak terdapat Stalagmit dan juga Pilar atau Tiang Kapur, yaitu pertemuan antara Stalagtit dengan Stalagmit. Kesemuanya ini terbentuk dari endapan tetesan air hujan yang sudah bereaksi dengan batu-batu kapur yang ditembusnya. Menurut penelitian para ahli, untuk pembentukan Stalagtit itu membutuhkan waktu yang sangat lama. Dalam satu tahun terbentuknya Stalagtit paling tebal hanya setebal 1 (satu) cm saja. Oleh sebab itu Goa Jatijajar merupakan Goa Kapur yang sudah tua sekali.

Batu-batuan yang ada di Goa Jatijajar merupakan batuan yang sudah tua sekali. Karena umur yang sudah tua sekali itu, maka di muka Goa Jatijajar dibangun sebuah patung Binatang Purba Dino Saurus sebagai simbol dari Objek Wisata Goa Jatijajar, dari mulut patung itu keluar air dari Sendang Kantil dan sendang Mawar, yang sepanjang tahun belum pernah kering. Sedangkan air yang keluar dari patung Dino Saurus tersebut dimanfaatkan oleh penduduk sekitar sebagai pengairan sawah desa Jatijajar dan sekitarnya.

Adapun Goa Jatijajar mempunyai panjang dari pintu masuk ke pintu keluar sepanjang 250 meter. Lebar rata-rata 15 meter dan tinggi rata-rata 12 meter sedangkan ketebalan langit-langit rata-rata 10 meter, dan ketingian dari permukaan laut 50 meter.

Sebelum Goa Jatijajar dibangun sebagai Objek Wisata, dahulu dikelola oleh juru kunci. Adapun silsilah juru kunci yang pernah mengelola Goa Jtijajar, yaitu :

a. Juru Kunci Ke I – Jayamenawi

b. Juru Kunci Ke II – Bangsatirta

c. Juru Kunci Ke III – Manreja

d. Juru Kunci Ke IV – Jayawikrama

e. Juru Kunci Ke V – Sandikrama

Pada tahun 1975 Goa Jatijajar mulai dibangun dan dikembangkan menjadi Objek Wisata. Adapun yang mempunyai ide untuk mengembangkan atau membangun Goa Jatijajar yaitu Bapak Suparjo Rustam sewaktu menjadi Gubernur Jawa Tengah. Sedang pada waktu itu yang menjadi Bupati Kebumen adalah Bapak Supeno Suryodiprojo.

th9NNY0VPT

Untuk melancarkan dan melaksanakan pengembangan Goa Jatijajar ditunjuk langsung oleh Bapak Suparjo Rustam cv.AIS dari Yogyakarta, sebagai pimpinan dari cv.AIS adalah Bapak Saptoto, seorang seniman deorama yang terkenal di Indonesia. Sebelum Pemda Kebumen melaksanakan pembagunan Goa Jatijajar, terlebih dahulu Pemda Kebumen telah mengganti rugi tanah penduduk yang terkena lokasi pembangunan Objek Wisata Goa Jatijajar Seluas 5,5 hektar.

Setelah Goa Jatijajar dibangun maka pengelolanya dikelola oleh Pemda Kebumen. Sejak Goa Jatijajar dibangun, di dalam Goa Jatijajar sudah ditambah dengan bangunan-bangunan seni antara lain: pemasangan lampu listrik sebagai penerangan, trap-trap beton untuk memberikan kemudahan bagi para wisatawan yang masuk ke dalam Goa Jatijajar serta pemasangan patung-patung atau deorama.

Deorama yang di pasang dan dalam Goa Jatijajar ada 8 (delapan) deorama, yang patung-patungnya ada 32 buah. Keseluruhannya mengisahkan cerita Legenda dari “Raden Kamandaka – Lutung Kasarung”. Adapun kaitannya dengan Goa Jatijajar ialah, dahulu kala Goa Jatijajar pernah digunakan untuk bertapa oleh Raden Kamandaka Putera Mahkota dari Kerajaan Pajajaran, yang bernama aslinya Banyak Cokro atau Banyak Cakra.

Perlu diketahui bahwa jaman dahulu sebagian dari wilayah Kabupaten Kebumen, adalah termasuk wilayah kekuasaan Pajajaran, yang pusat pemerintahannya di Bogor (Batutulis) Jawa Barat.

Adapun batasnya yaitu Kali Lukulo dari Kabupaten Kebumen sebelah Timur Kali Lukulo masuk ke wilayah Kerajaan Mojopahit, sedangkan sebelah barat Kali Lukulo masuk wilayah Kerajaan Pajajaran. Sedangkan cerita itu terjadinya di kabupaten Pasir Luhur, yaitu daerah Baturaden atau Purwokerto pada abad ke-14. Namun keseluruhan Deoramanya dipasang di dalam Goa Jatijajar. sumur

 

2.Masjid Agung Kebumen

th5ATQH8DI

Didirikan Tahun 1832 M, Soko Guru Dibuat Semalam

Keberadaan Masjid Agung Kauman Kebumen tidak bisa dilepaskan dari sosok KH. Imanadi, putra Kyai Nurmadin atau Pangeran Nurudin bin Pangeran abdurrahman alias Kyai Marbut Roworejo. Dialah pendiri Masjid Agung Kebumen yang kini sudah berumur 176 tahun. Makam ulama yang diyakini hidup antara tahun 1775-1850 M itu berada di Dusun Pesucen, Desa Wonosari, Kebumen.
Belum ada referensi tertulis yang bisa dijadikan rujukan untuk menyingkap sejarah berdirinya Maskid Agung Kauman Kebumen. Sumber yang bisa dijadikan patokah adalah cerita lisan turun temurun, termasuk dari keturunan K.H. Imanadi yang masih hidup.
K.H. Imanadi merupakan salah satu punggawa Pangeran Diponegoro yang gigih melawan penjajah. Dia diyakini sebagai seorang ahli Fiqih dan hukum ketatanegaraan. Adipati Arumbinang ke-IV yang menjadi penguasa Kebumen saat itu berkenan mengeluarkan K.H. Imanadi dari penjara karena menjadi tahanan politik Belanda. Arumbinang IV konon mendapat wangsit jika ingin kuat maka harus menemui dan bekerja sama dengan K.H. Imanadi. Bahkan K.H. Imanadi diangkat menjadi Penghulu Landrat atau Kepala Depag dan Pengadilan Agama pertama di Kebumen.
Salah satu keturunan ke-6 K.H. Imanadi, M. Sudjangi menuturkan, saat perang Diponegoro (1825-1830), K. H. Imanadi yang paling gigih menentang Belanda. Saat itu Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat telah dikuasai Belanda. Penjajah tersebut mengangkat adik Pangeran Diponegoro menjadi Hamengkubowono ke-IV (1814-1822 M). Padahal mestinya Pangeran Diponegoro yang berhak menjadi Sultan.
Kegigihan Imanadi yang pernah bermukim di Mekkah sekaligus menunaikan ibadah haji melanjutkan perjuangan ayahnya K. Nurmadin dan kakeknya Pangeran Abdurrahman atau K. Marbut. K. Marbut diyakini saudara kandung Pangeran Diponegoro yang juga putra kandung Hamengkubuwono ke-3.

thBCGIE4LU
Saat itu, Pangeran Abdurrahman diperimtah Keraton Ngayogyakarta untuk mencari kakak kandungnya yakni Kyai Mursid yang pergi entah kemana. Dia kontra dengan Keraton yang telah dikuasai Belanda. Singkat cerita, Pangeran Abdurrahman bertemu dengan Kyai Mursid di tempat lain yang sekarang dinamai desa Roworejo.

KONDISI MASJID AGUNG KEBUMEN
Masjid kebanggaan masyarakat Kebumen ini dapat dikatakan besar, sebab ukuran bangunannya sendiri berukuran panjang kurang lebih 50 meter dan lebarnya kurang lebih 25 meter. Masjid ini memiliki dua lantai. Pada lantai bawah terdapat 2 buah bedug dengan ukuran berbeda, yang pertama seperti pada umumnya, sedangkan yang kedua dengan ukuran yang besar, yakni dengna ukuran sebagai berikut :
BEDUG IJO MANGUN SARI KEBUMEN
Dibuat                       :     Tanggal 15 Sya’ban 1422 H
Ukuran                      :     – p = 260 cm   – d = 160 cm
– k = 500 cm    – d bagian tengah = 180 cm
Jumlah paku           :    108 biji
Bahan                         :    kayu waru
Pada bagian serambi terdapat kurang lebih 36 tiang sebagai penyangga atap masjid, sedangkan di bagian ruang utama masjid terdapat kurang lebih 19 tiang dengan 8 diantaranya sebagai tiang yang pokok. Pada ruang utama masjid juga terdapat hiasan dinding berupa kaligrafi yang semakin membuat masjid ini tampak begitu indah dipandang dan terasa suasana timur tengah. Sementera itu, di bagian depan terdapat dua buah jam, yaitu sebuah jam Istiwa sebagai penunjuk waktu sholat dan sebuah jam sebagai penunjuk waktu WIB.
Sebagai sarana pendukung kegiatan sholat Jum’at dan sholat Idul Fitri serta Idul Adha, di dalam Masjid Agung terdapat sebuah mimbar sebagai tempat khotbah yang berdiri dengan karpet berwarna biru yang indah dan berukiran kaligrafi.
Suci dari hadas dan najis merupakan bagian dari syarat sahnya sholat, sehingga seperti masjid pada umumnya, masjid ini juga dilengkapi dengan sarana  tempat untuk berwudhu.
Masjid Agung ini juga dilengkapi dengan sebuah Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) yang didirikan sejak tahun 1996 M. Di TPQ ini juga diadakan kegiatan pembinaan tilawatil Qur’an.
Untuk mengembangkan wawasan ilmu para santri, di TPQ ini juga dilengkapi dengan ruang perpustakaan yang di dalamnya terdapat berbagai macam buku bacaaan.https://anakbumen.wordpress.com/2010/12/15/sejarah-masjid-agung-kebumen/

3.Goa Petruk

th3IARTADR

Informasi wisata goa Petruk di Kebumen. Kebumen adalah salah satu kota di Indonesia yang memiliki cukup banyak tempat wisata. Tempat wisata Kebumen tersebar di berbagai wilayah Kebumen, baik itu yang berupa tempat wisata darat, tempat wisata bangunan atau museum, tempat wisata goa, tempat wisata tanah tinggi, tempat wisata laut, outbound, maupun tempat wisata air tawar, arum jeram, pemandian air hangat, dan juga waduk. Goa Petruk adalah salah satu tempat wisata Kebumen yang berupa goa, selain goa Jatijajar.

Lokasi goa Petruk berada di dusun Mandayana, Desa Candirenggo, Kecamatan Ayah, kabupaten Kebumen, atau sekitar 4,5 km dari goa Jatijajar (Gombong) menuju ke arah selatan. Banyak warga Kebumen dan luar Kebumen yang telah mendengar wisata Goa Petruk, tetapi masih enggan untuk mengunjungi obyek wisata goa Petruk tersebut. Karena untuk masuk Goa Petruk ini diperlukan persiapan yang cukup, seperti medan atau jalan menuju lokasi Goa Petruk yang lumayan berliku, kemudian juga ketika sampai ke kawasan wisata Goa Petruk, sebelum sampai ke Goa Petruk kita harus manjat atau mendaki dulu melalui tangga semen (undak-undakan) yang cukup jauh dan tinggi. Tetapi sebenarnya perjalanan tersebut cukup bagus dan sehat untuk sekalian berolahraga sambil menikmati hutan di sekeliling wilayah Goa Petruk.

Goa Petruk Kebumen belum maksimal dalam pengelolaanbya oleh Dinas Pariwisata dan Pemkab Kebumen sebagi obyek wisata alam di Kebumen. Padahal Goa Petruk ini  menurut pendapat Doktor Koo (pakar Goa dari luar negeri) merupakan Goa terindah di Indonesia atau bahkan di Asia. Untuk itu, pakar Goa ini meminta pada Pemda Kebumen, agar Gua tersebut tetap dijaga kealamiannya. Bahkan, untuk diterangi dengan listrik, juga tak diperkenankan. Namun pengunjung atau wisatawan goa Petruk tidak perlu khawatir, karena di situ tersedia Gaet / Pemandu Wisata Gua Petruk yang selalu siap mengantar disertai dengan peralatan lampu yang memadai. Goa Petruk ini sebetulnya terbagi menjadi tiga bagian, yaitu Bagian pertama / di lantai I hanya terdapat kelelawar, bagian kedua adalah lokasi  disebut Goa Semar, serta bagian terakhir adalah lokasi yang di sebut Goa Petruk karena dulu disitu ada batu mancung yang mirip dengan hidung Petruk.

9c545fb89dd8faf6b2ef07d4978a7cac_XL

Selain keindahan batu dan juga suasana khas sebuah goa pada umumnya, di Goa Petruk juga terdapat danau atau sendang, yang mana untuk masuk ke lokasi harus didampingi gaet dan ada juga lokasi di dalam goa yang untuk menjangkaunya harus dengan menyelam terlebih dulu. Kondisi dalam Goa Petruk memperlihatkan pemandangan stalaktit dan stalakmit, aneka bebatuan yang cukup indah dan mempesona, dengan bermacam bentuk dan jenis batuan, seperti batu payudara/susu, batu pelangi, dan seterusnya. Demikian informasi wisata Kebumen tentang Goa Petruk, semoga bermanfaat. sumur

4.Benteng Van der Wijk

Benteng ini adalah benteng pertahanan Hindia-Belanda yang dibangun sekitar abad ke 19. Terletak di Kota Gombong, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, kira-kira 300 m dari jalan raya Kebumen – Yogyakarta, benteng ini adalah salah satu obyek wisata menarik di Jalur Pantai Selatan. Nama Van Der Wijck sendiri berasal dari nama komandan pada saat itu yang karirnya cukup cemerlang dalam membungkam perlawanan rakyat Aceh. Pada awal didirikan, benteng ini diberi nama Fort Cochius (Benteng Cochius) dari nama salah seorang Jenderal Belanda Frans David Cochius (1787-1876) yang pernah ditugaskan di daerah Bagelen (salah wilayah karesidenan Kedu).

Tulisan Benteng Van Der Wijk Gombong, tepat di pintu masuk benteng
Tulisan Benteng Van Der Wijck Gombong, tepat di pintu masuk benteng

Dengan luas mencapai 3606 m2 dan tinggi 9,67 m, warna merah yang mendominasi menjadikan benteng ini tampak mencolok dibanding bangunan-bangunan kuno di sekelilingnya. Benteng ini memiliki 16 barak dengan ukuran 7,5 x 11 m2. Kompleks bangunan di sekitar Benteng Van der Wicjk adalah barak militer yang awalnya digunakan untuk meredam kekuatan pasukan Pangeran Diponegoro. Karena kehebatan beliau yang juga didukung pemimpin-pemimpin lokal di selatan Jawa, Belanda menerapkan taktik benteng stelsel yaitu pembangunan benteng di lokasi yang sudah dikuasainya. Tujuannya jelas, untuk memperkuat pertahanan sekaligus mempersempit ruang gerak musuh, terutama di karesidenan Kedu Selatan. Benteng ini didirikan atas prakarsa Jenderal Van den Bosch. Pada jaman penjajahan Jepang, kompleks benteng ini menjadi tempat pelatihan prajurit PETA.

Tampak depan Benteng Van Der Wijk Gombong yang didominasi warna merah
Tampak depan Benteng Van Der Wicjk Gombong yang didominasi warna merah

Kini, kompleks benteng ini menjadi Sekolah Calon Tamtama dan barak militer TNI AD. Ada pula bangunan yang difungsikan sebagai hotel dan ruangan serba guna. Namun bukan hanya itu saja, benteng ini juga menjadi obyek wisata andalan daerah Gombong dan sekitarnya. Tak Cuma sekedar benteng tua, kini pihak pengelola juga melengkapi obyek wisata ini dengan taman bermain anak seperti kincir putar, perahu angsa, mobil-mobilan dll. Selain itu, pihak pengelola juga menyediakan kereta mini yang mengangkut pengunjung dari pintu gerbang utama menuju benteng yang memang jaraknya agak jauh. Ada pula patung dinosaurus raksasa yang pastinya membuat anak-anak menjadi senang dan gembira. Tak ketinggalan warung-warung makan yang beragam menambah semarak obyek wisata Benteng Van der Wijck.

Taman bermain di sekitar Benteng Van Der Wijk Gombong, wahana wisata keluarga yang murah meriah
Taman bermain di sekitar Benteng Van Der Wijck Gombong, wahana wisata keluarga yang murah meriah

Namun, yang paling unik sebenarnya adalah adanya kereta mini persis di atas benteng. Dengan kereta ini pengunjung bisa mengelilingi benteng dan menikmati pemandangan dari atas benteng. Mungkin ini satu-satunya di Indonesia dimana pengunjung bisa menaiki kereta di atas benteng. Dari atas benteng pengunjung bisa menyaksikan prajurit yang tengah berlatih di lapangan tak jauh dari kompleks benteng. Cukup membayar tiket Rp 5000 per orang, pengunjung bisa menaiki kereta mini selama kira-kira 15 menit. Meskipun pemandangan sekitar tidak spektakuler, namun sensasi menaiki kereta di atas benteng hanya bisa Anda dapatkan disini.

Kereta mini di atas Benteng Van Der Wijk Gombong, satu-satunya di Indonesia
Kereta mini di atas Benteng Van Der Wijck Gombong, satu-satunya di Indonesia

Selain kereta di atas benteng, pengunjung juga bisa melihat-lihat ruangan-ruangan dalam benteng. Ruangan-ruangan itu dulunya berfungsi sebagai barak militer, pos jaga, dan kantor. Ada pula ruangan yang khusus berisi foto-foto benteng jaman dulu, sebelum dipugar, dan sesudah dipugar.

Kondisi dalam Benteng Van Der Wijk Gombong, difoto dari atas benteng
Kondisi dalam Benteng Van Der Wijck Gombong, difoto dari atas benteng

Ada lagi yang unik, yaitu sebuah papan pengumuman yang bertuliskan “Sebelum masuk benteng sebaiknya Anda berdoa sejenak menurut kepercayaan masing-masing.” Meskipun terkesan menakut-nakuti, tapi sebaiknya memang diikuti saja. Memang, sebagai kompleks militer tua yang memiliki sejarah panjang, pasti banyak terjadi pertumpahan darah disini, sehingga kesan seram sulit untuk dihilangkan. Namun selama Anda berlaku sopan, Insya Allah tidak akan terjadi apa-apa. Anda juga harus ingat, benteng ini berada dalam kompleks militer, jadi jangan berlaku seenaknya dan hormatilah orang-orang yang tinggal di kompleks ini. Tunggu apa lagi, kalau Anda melewati kota Gombong, jangan lupa singgah di Benteng Van der Wijck dan nikmati pesonanya.

Benteng ini adalah benteng pertahanan Hindia-Belanda yang dibangun sekitar abad ke 19. Terletak di Kota Gombong, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, kira-kira 300 m dari jalan raya Kebumen – Yogyakarta, benteng ini adalah salah satu obyek wisata menarik di Jalur Pantai Selatan. Nama Van Der Wijck sendiri berasal dari nama komandan pada saat itu yang karirnya cukup cemerlang dalam membungkam perlawanan rakyat Aceh. Pada awal didirikan, benteng ini diberi nama Fort Cochius (Benteng Cochius) dari nama salah seorang Jenderal Belanda Frans David Cochius (1787-1876) yang pernah ditugaskan di daerah Bagelen (salah wilayah karesidenan Kedu).

Tulisan Benteng Van Der Wijk Gombong, tepat di pintu masuk benteng
Tulisan Benteng Van Der Wijck Gombong, tepat di pintu masuk benteng

Dengan luas mencapai 3606 m2 dan tinggi 9,67 m, warna merah yang mendominasi menjadikan benteng ini tampak mencolok dibanding bangunan-bangunan kuno di sekelilingnya. Benteng ini memiliki 16 barak dengan ukuran 7,5 x 11 m2. Kompleks bangunan di sekitar Benteng Van der Wicjk adalah barak militer yang awalnya digunakan untuk meredam kekuatan pasukan Pangeran Diponegoro. Karena kehebatan beliau yang juga didukung pemimpin-pemimpin lokal di selatan Jawa, Belanda menerapkan taktik benteng stelsel yaitu pembangunan benteng di lokasi yang sudah dikuasainya. Tujuannya jelas, untuk memperkuat pertahanan sekaligus mempersempit ruang gerak musuh, terutama di karesidenan Kedu Selatan. Benteng ini didirikan atas prakarsa Jenderal Van den Bosch. Pada jaman penjajahan Jepang, kompleks benteng ini menjadi tempat pelatihan prajurit PETA.

Tampak depan Benteng Van Der Wijk Gombong yang didominasi warna merah
Tampak depan Benteng Van Der Wicjk Gombong yang didominasi warna merah

Kini, kompleks benteng ini menjadi Sekolah Calon Tamtama dan barak militer TNI AD. Ada pula bangunan yang difungsikan sebagai hotel dan ruangan serba guna. Namun bukan hanya itu saja, benteng ini juga menjadi obyek wisata andalan daerah Gombong dan sekitarnya. Tak Cuma sekedar benteng tua, kini pihak pengelola juga melengkapi obyek wisata ini dengan taman bermain anak seperti kincir putar, perahu angsa, mobil-mobilan dll. Selain itu, pihak pengelola juga menyediakan kereta mini yang mengangkut pengunjung dari pintu gerbang utama menuju benteng yang memang jaraknya agak jauh. Ada pula patung dinosaurus raksasa yang pastinya membuat anak-anak menjadi senang dan gembira. Tak ketinggalan warung-warung makan yang beragam menambah semarak obyek wisata Benteng Van der Wijck.

Taman bermain di sekitar Benteng Van Der Wijk Gombong, wahana wisata keluarga yang murah meriah
Taman bermain di sekitar Benteng Van Der Wijck Gombong, wahana wisata keluarga yang murah meriah

Namun, yang paling unik sebenarnya adalah adanya kereta mini persis di atas benteng. Dengan kereta ini pengunjung bisa mengelilingi benteng dan menikmati pemandangan dari atas benteng. Mungkin ini satu-satunya di Indonesia dimana pengunjung bisa menaiki kereta di atas benteng. Dari atas benteng pengunjung bisa menyaksikan prajurit yang tengah berlatih di lapangan tak jauh dari kompleks benteng. Cukup membayar tiket Rp 5000 per orang, pengunjung bisa menaiki kereta mini selama kira-kira 15 menit. Meskipun pemandangan sekitar tidak spektakuler, namun sensasi menaiki kereta di atas benteng hanya bisa Anda dapatkan disini.

Kereta mini di atas Benteng Van Der Wijk Gombong, satu-satunya di Indonesia
Kereta mini di atas Benteng Van Der Wijck Gombong, satu-satunya di Indonesia

Selain kereta di atas benteng, pengunjung juga bisa melihat-lihat ruangan-ruangan dalam benteng. Ruangan-ruangan itu dulunya berfungsi sebagai barak militer, pos jaga, dan kantor. Ada pula ruangan yang khusus berisi foto-foto benteng jaman dulu, sebelum dipugar, dan sesudah dipugar.

Kondisi dalam Benteng Van Der Wijk Gombong, difoto dari atas benteng
Kondisi dalam Benteng Van Der Wijck Gombong, difoto dari atas benteng

Ada lagi yang unik, yaitu sebuah papan pengumuman yang bertuliskan “Sebelum masuk benteng sebaiknya Anda berdoa sejenak menurut kepercayaan masing-masing.” Meskipun terkesan menakut-nakuti, tapi sebaiknya memang diikuti saja. Memang, sebagai kompleks militer tua yang memiliki sejarah panjang, pasti banyak terjadi pertumpahan darah disini, sehingga kesan seram sulit untuk dihilangkan. Namun selama Anda berlaku sopan, Insya Allah tidak akan terjadi apa-apa. Anda juga harus ingat, benteng ini berada dalam kompleks militer, jadi jangan berlaku seenaknya dan hormatilah orang-orang yang tinggal di kompleks ini. Tunggu apa lagi, kalau Anda melewati kota Gombong, jangan lupa singgah di Benteng Van der Wijck dan nikmati pesonanya.

Benteng ini adalah benteng pertahanan Hindia-Belanda yang dibangun sekitar abad ke 19. Terletak di Kota Gombong, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, kira-kira 300 m dari jalan raya Kebumen – Yogyakarta, benteng ini adalah salah satu obyek wisata menarik di Jalur Pantai Selatan. Nama Van Der Wijck sendiri berasal dari nama komandan pada saat itu yang karirnya cukup cemerlang dalam membungkam perlawanan rakyat Aceh. Pada awal didirikan, benteng ini diberi nama Fort Cochius (Benteng Cochius) dari nama salah seorang Jenderal Belanda Frans David Cochius (1787-1876) yang pernah ditugaskan di daerah Bagelen (salah wilayah karesidenan Kedu).

Tulisan Benteng Van Der Wijk Gombong, tepat di pintu masuk benteng
Tulisan Benteng Van Der Wijck Gombong, tepat di pintu masuk benteng

Dengan luas mencapai 3606 m2 dan tinggi 9,67 m, warna merah yang mendominasi menjadikan benteng ini tampak mencolok dibanding bangunan-bangunan kuno di sekelilingnya. Benteng ini memiliki 16 barak dengan ukuran 7,5 x 11 m2. Kompleks bangunan di sekitar Benteng Van der Wicjk adalah barak militer yang awalnya digunakan untuk meredam kekuatan pasukan Pangeran Diponegoro. Karena kehebatan beliau yang juga didukung pemimpin-pemimpin lokal di selatan Jawa, Belanda menerapkan taktik benteng stelsel yaitu pembangunan benteng di lokasi yang sudah dikuasainya. Tujuannya jelas, untuk memperkuat pertahanan sekaligus mempersempit ruang gerak musuh, terutama di karesidenan Kedu Selatan. Benteng ini didirikan atas prakarsa Jenderal Van den Bosch. Pada jaman penjajahan Jepang, kompleks benteng ini menjadi tempat pelatihan prajurit PETA.

Tampak depan Benteng Van Der Wijk Gombong yang didominasi warna merah
Tampak depan Benteng Van Der Wicjk Gombong yang didominasi warna merah

Kini, kompleks benteng ini menjadi Sekolah Calon Tamtama dan barak militer TNI AD. Ada pula bangunan yang difungsikan sebagai hotel dan ruangan serba guna. Namun bukan hanya itu saja, benteng ini juga menjadi obyek wisata andalan daerah Gombong dan sekitarnya. Tak Cuma sekedar benteng tua, kini pihak pengelola juga melengkapi obyek wisata ini dengan taman bermain anak seperti kincir putar, perahu angsa, mobil-mobilan dll. Selain itu, pihak pengelola juga menyediakan kereta mini yang mengangkut pengunjung dari pintu gerbang utama menuju benteng yang memang jaraknya agak jauh. Ada pula patung dinosaurus raksasa yang pastinya membuat anak-anak menjadi senang dan gembira. Tak ketinggalan warung-warung makan yang beragam menambah semarak obyek wisata Benteng Van der Wijck.

Taman bermain di sekitar Benteng Van Der Wijk Gombong, wahana wisata keluarga yang murah meriah
Taman bermain di sekitar Benteng Van Der Wijck Gombong, wahana wisata keluarga yang murah meriah

Namun, yang paling unik sebenarnya adalah adanya kereta mini persis di atas benteng. Dengan kereta ini pengunjung bisa mengelilingi benteng dan menikmati pemandangan dari atas benteng. Mungkin ini satu-satunya di Indonesia dimana pengunjung bisa menaiki kereta di atas benteng. Dari atas benteng pengunjung bisa menyaksikan prajurit yang tengah berlatih di lapangan tak jauh dari kompleks benteng. Cukup membayar tiket Rp 5000 per orang, pengunjung bisa menaiki kereta mini selama kira-kira 15 menit. Meskipun pemandangan sekitar tidak spektakuler, namun sensasi menaiki kereta di atas benteng hanya bisa Anda dapatkan disini.

Kereta mini di atas Benteng Van Der Wijk Gombong, satu-satunya di Indonesia
Kereta mini di atas Benteng Van Der Wijck Gombong, satu-satunya di Indonesia

Selain kereta di atas benteng, pengunjung juga bisa melihat-lihat ruangan-ruangan dalam benteng. Ruangan-ruangan itu dulunya berfungsi sebagai barak militer, pos jaga, dan kantor. Ada pula ruangan yang khusus berisi foto-foto benteng jaman dulu, sebelum dipugar, dan sesudah dipugar.

Kondisi dalam Benteng Van Der Wijk Gombong, difoto dari atas benteng
Kondisi dalam Benteng Van Der Wijck Gombong, difoto dari atas benteng

Ada lagi yang unik, yaitu sebuah papan pengumuman yang bertuliskan “Sebelum masuk benteng sebaiknya Anda berdoa sejenak menurut kepercayaan masing-masing.” Meskipun terkesan menakut-nakuti, tapi sebaiknya memang diikuti saja. Memang, sebagai kompleks militer tua yang memiliki sejarah panjang, pasti banyak terjadi pertumpahan darah disini, sehingga kesan seram sulit untuk dihilangkan. Namun selama Anda berlaku sopan, Insya Allah tidak akan terjadi apa-apa. Anda juga harus ingat, benteng ini berada dalam kompleks militer, jadi jangan berlaku seenaknya dan hormatilah orang-orang yang tinggal di kompleks ini. Tunggu apa lagi, kalau Anda melewati kota Gombong, jangan lupa singgah di Benteng Van der Wijck dan nikmati pesonanya.

sumur

 

 

5.Masjid Jam’i Saka Tunggal Pekuncen

Masjid Jami’ Saka Tunggal Pekuncen Kebumen adalah masjid saka tunggal kedua yang saya pernah kunjungi sejauh ini. Sesuai namanya, masjid di Desa Pekuncen, Kecamatan Sempor Kebumen ini hanya memiliki satu pilar yang menyangga atapnya, berbeda dengan masjid kebanyakan yang lazimnya memiliki empat pilar yang disebut dengan soko guru.

Adalah Masjid Saka Tunggal Cikakak di daerah Kabupaten Banyumas yang pertama saya kunjungi. Jika di masjid Cikakak ada banyak sekali penghuni liar berujud monyet ekor panjang, maka di masjid Pekuncen ini suasananya sepi saja. Namun di dekat kedua masjid unik ini sama-sama terdapat makam tua yang dihormati dan diziarahi banyak orang.

Lokasi Masjid Jami’ Saka Tunggal Pekuncen ada di sebelah utara Benteng Van der Wijck, berjarak sekitar 1,7 km, melewati Desa Sidayu. Bangunannya berada di ujung gang, masuk sekitar 200 meter dari jalan utama desa ke arah kiri atau arah ke Barat. Sekira 200 meter di sebelah Barat masjid terdapat lapangan tembak yang panjangnya sekitar 475 meter.

masjid jami' saka tunggal pekuncen kebumen
Gapura candi bentar bertulis “Masjid Jami’ Saka Tunggal”, dan tahun pembuatan gapura Juli 2005 serta padanan dalam kalender Hijriyah. Juga ada “Pkc”, singkatan dari Pekuncen. Di sebelah kiri terlihat ada tengara yang menandai bahwa Masjid Saka Tunggal Pekuncen ini merupakan benda Cagar Budaya yang dilindungi kelestariannya oleh Undang-Undang.

Halaman masjid terlihat cukup luas dan telah dilapisi dengan blok paving sehingga terlihat rapi. Melihat bentuknya, Masjid Saka Tunggal Pekuncen yang sekarang ini sudah merupakan kombinasi dari bangunan tradisional limasan tumpang dengan gaya masjid Timur Tengah, terlihat dengan adanya kubah, serta lubang-lubang lengkung pada teras.

masjid jami' saka tunggal pekuncen kebumen
Pemandangan pada pojok serambi Masjid Jami’ Saka Tunggal Pekuncen. Sebuah bedug berukuran sedang, lengkap dengan kentongannya yang diletakkan pada dudukan mendatar, terlihat di sisi serambi sebelah kanan. Dahulu, bedug adalah suara merdu yang selalu ditunggu-tunggu orang, terutama sebagai penanda buka puasa pada saat bulan Ramadhan.

Atap serambi telah ditutup dengan eternit atau asbes yang dicat warna putih, menyembunyikan struktur kayu penopang atap masjid. Struktur kayu penopang atap sebenarnya mungkin akan terlihat lebih indah jika saja dibiarkan terlihat mata. Dengan adanya eternit maka serambi masjid menjadi terkesan sempit karena langit-langit yang rendah.

masjid jami' saka tunggal pekuncen kebumen
Seorang bapak berkopiah tampak berdzikir di dekat mihrab, memunggungi saka tunggal penopang atap limasan masjid. Tiang kayu jati tua itu berukuran 30×30 cm, dengan tinggi 4 m, dan di puncaknya melintang empat batang kayu yang disangga empat skur berukir. Saka tunggal dan skur-nya itu tampaknya merupakan bagian masjid yang masih asli.

Masjid Saka Tunggal Pekuncen konon didirikan pada 1722 oleh Bupati Kendurean, yang adalah putra dari Adipati Mangkuprojo. Sang adipati wafat pada 1719 dan dimakamkan di Pekuncen sesuai dengan wasiatnya, karena beliau pernah berjuang melawan penjajah dari tempat ini. Masjid ini didirikan bertepatan dengan peringatan 1000 hari wafatnya sang adipati.

Semula atap masjid terbuat dari ijuk dan berdinding tabak bambu. Pada 1822 atap masjid diganti genteng, dan pada 1922 dindingnya diganti batu bata. Saya sempat shalat Jumat di Masjid Jami’ Saka Tunggal ini setelah berkunjung ke Makam Adipati Mangkupraja yang berada di atas sebuah bukit cukup tinggi sekitar 300 meter di sebelah utara masjid.

sumber

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s